Gagal bayar P2P Lending

10 Juta Gagal Bayar Pertamaku di P2P Lending Tahun 2022

Pertama kali mengenal jenis investasi P2P Lending bagi saya adalah ketika membaca sebuah artikel di Koran Nasional. Saya lupa dimana pastinya, namun artikel tersebut membahas sebuah platform baru yang bergerak dalam mendanai usaha- usaha mikro para ibu di Indonesia dan saya tertarik dengan ide pemberdayaan perempuan. 

Untuk itu saya pun mengikuti salah satu acara yang diadakan platform tersebut di daerah Jakarta. Setelah mengikuti acara itu, saya semakin mantap untuk memulai investasi di P2P Lending.

Investasi di P2P Lending sudah saya mulai sejak tahun 2018 ketika pertama kali memasuki dunia kerja. Dimulai dengan modal 2 sampai 3 juta, saya membiasakan melakukan investasi ini dalam rangka disiplin diri menabung.

Skema Investasiku di P2P Lending

Saya memulai investasi P2P Lending melalui platform Amartha dan juga Reksa Dana di Tokopedia. Baru pada tahun 2020 saya menggunakan platform Investree dan Akronesia. Pada mulanya saya menginvestasikan uang saya sejumlah 20 juta rupiah yang dibagi ke 2 perusahaan di platform Investree.

Perusahaan pertama dengan kode PT IES yang saya modalkan di Investree berhasil mengembalikan dana pinjaman dan juga imbal hasil dengan tepat waktu. 10 juta uang yang saya modalkan dikembalikan beserta imbal hasilnya dengan jangka waktu 76 hari.

Merasa puas dengan pengalaman investasi saya diplatform ini kemudian saya memutar kembali uang 10 juta saya untuk dimodalkan kepada perusahaan dengan kode yang sama. Perusahaan tersebut pun berhasil mengembalikan dana tepat waktu serta imbal hasilnya dalam jangka waktu 90 hari.

Gagal Bayar Pertamaku

Lalu, bagaimana dengan 10 juta lainnya? Ya, benar 10 juta saya lainnya yang saya pinjamkan pada perusahaan dengan kode PT TAP tidak berjalan mulus. Padahal tipe pinjaman dana adalah invoice financing yang sebetulnya resikonya lebih kecil jika dibandingkan mendanai UMKM.

Intinya PT tersebut mendapatkan proyek sebesar kurang lebih 1 milyar, namun karena tidak ada modal awal maka PT tersebut meminjam dana dahulu ke P2P Lending. Apabila proyek dan tenor waktunya sudah selesai maka PT besar yang memberikan proyek tersebutlah yang mengembalikan dananya.

PT TAP sendiri adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang pertanian, dengan kredit rating C dan bunga hingga 20% per tahun. Well, sangat beresiko sebenarnya.

Namun begitu, memang sudah nasibnya. Yang awalnya jangka waktu pinjam adalah 90 hari, molor hingga lebih dari 171 hari. Hal ini tentunya membuat resah di masa pandemi yang serba banyak ketidakpastian ini.

Dalam perjalanannya, tim Investree cukup sering memberikan update terkait keterlambatan bayar PT TAP tersebut. Mereka juga menerangkan mekanisme penagihan yang dilakukan ke PT TAP. Ketika saya bertanya beberapa hal pun tim Investree responsif menjawab pertanyaan saya dan menjelaskan duduk perkaranya.

Apa Masalahnya?

Mereka bilang bahwa permasalahannya adalah masalah internal perusahaan yang sulit untuk dihubungi dan ditemui. Beberapa kali dalam emailnya, tim Investree menyatakan berusaha menemui Sang Direktur namun tidak pernah berhasil dengan alasan tidak ada di tempat, alamat perusahaan yang tiba- tiba berubah dan hal- hal berkelit lainnya.

Hingga pada akhirnya, terbongkar sudah alasan bahwa dana yang dipinjamkan memang ternyata tidak digunakan sebagaimana mestinya, sehingga PT tersebut tidak bisa memberikan pertanggung jawaban dari hasil usahanya tersebut.

Bersyukur Investree merupakan platform P2P Lending yang memerikan asuransi dana kepada kita sebagai peminjam. Asuransi ini bersifat wajib kita ikut-sertakan untuk melindungi dana kita dari kejadian seperti halnya di atas.

Setelah melewati masa- masa resah karena dana yang tidak kunjung kembali, Investree akhirnya memberikan pernyataan bahwa dana kami sebagai investor dapat dikembalikan sebanyak 90% yakni dana asuransi dari dana pokok. Alhasil, dana sebesar 9 juta saya dapat dikembalikan dan bisa ditarik kembali.

Jika teman- teman masih bingung dan ingin lebih jauh mengetahui tentang seluk- belum Investree dan asuransi di Investree kalian bisa membaca dan bertanya di sini.

Hikmah dan Pelajarannya

Ya, saya sangat lega meskipun dana tidak dikembalikan sebesar 100%, alias saya juga rugi 1 juta beserta uang imbal hasil dan denda yang gagal disetorkan karena perusahaan tersebut bangkrut. Akan tetapi hal ini menjadi pengalaman tersendiri untuk saya agar lebih berhati- hati dan seksama memberikan modal ke sebuah perusahaan.

Selain itu, dalam dunia investasi memang kita harus humble. Memahami bahwa ada hari untung namun juga ada hari kita tidak untung. Namanya juga investasi, kita tidak bisa berharap untuk untung terus. Pastinya ada resiko yang harus kita ketahui dan hadapi.

Kapok kah? Hmm lumayan, khususnya di platform P2P yang setelah saya analisis memang kinerjanya sedang menurun di tahun- tahun pandemi dan pasca pandemi ini.

Jadi, menurut saya pribadi sepertinya belum kembali menjanjikan untuk berinvestasi di P2P Lending. Saran saya lainnya, tetaplah melakukan diversifikasi pinjaman dan investasi kalian agar resiko gagal semakin kecil.

Sekian pengalaman gagal bayar pertama saya. Saya berharap kondisi ekonomi Indonesia semakin pulih dan stabil, sehingga segalanya menjadi lebih baik seperti sedia kala.

Semoga bermanfaat.

 

 

 

2 thoughts on “10 Juta Gagal Bayar Pertamaku di P2P Lending Tahun 2022”

  1. Wah padahal investree itu termasuk yang lumayan ketat dalam pengajuan jadi borrower. Tapi ada aja company yang kaya gini ya. Untung masih bisa balik uangnyaa

    1. Senangnya dikomen sama mbak Shinta, my inspiration.. semoga bisa mengikuti jejak mbak jadi blogger yang sukses 🙂 terima kasih ya mbak sudah komen dan berkunjung. Betul mbak bersyukur masih bisa kembali uangnya, jujur di masa pandemi memang banyak nyemplung di dunia trading dan investasi. Saya juga sempat belajar Crypto dan Saham. Lain kali mungkin saya sharing juga pengalaman berharga itu 😀

Leave a Comment

Your email address will not be published.