Menemukan Jalan Hidup (Indonesian Version)

Terkadang adanya suatu masalah menjadi titik balik dalam hidup ini.

Hampir semua dari kita tidak memiliki petunjuk atas apa yang sesungguhnya ingin kita lakukan dalam hidup ini. Bahkan sampai kita menyelesaikan bangku perkuliahan kita, bahkan sampai kita mendapatkan suatu pekerjaan, bahkan sampai kita mampu menghasilkan uang kita sendiri, kita akan terus dan terus mencari jalan itu. 

Aku sendiri mungkin sejak usia 20 sampai 25 tahun ini, seringkali mengubah apa yang menjadi aspirasiku dalam karir masa depanku, bahkan mungkin lebih sering dibandingkan aku mengganti menu sarapan pagiku. Ketika sebelum menyelesaikan studi sarjanaku, idealismeku tentu tidak jauh dari apa yang orangtuaku bentuk sejak aku kecil. 

Mereka seorang pegawai negeri sipil, bekerja untuk institusi pendidikan dan penelitian. Aku dulu ingin sekali menjadi seperti mereka, menyelesaikan pendidikan hingga tingkat doktoral. Mengabdi untuk negeri melalui kepakaran yang aku miliki. Setelah lulus, aku ingat sekali betapa bingungnya aku untuk menentukan apa yang ingin aku lakukan dalam hidupku. 

Pernah terlintas olehku untuk menjadi seorang pebisnis, penulis atau tetap komit dengan keinginan selama menjadi mahasiswa, yaitu peneliti. Aku juga pernah mencoba menjadi pendidik di salah satu sekolah karena pada dasarnya aku senang berbuat suatu untuk orang lain dan pilihan menjadi pendidik saat itu bagiku amat besar manfaatnya.

Aku dapat meningkatkan kepercayaan diriku, menambah pengalaman mengajar dan juga berlatih menjadi orangtua yang mengajari anaknya. Sampai 3 tahun pasca kelulusanku, aku tetap mencari apa yang benar ingin aku lakukan dalam hidupku.

Aku yakin pertanyaan yang sama akan diajukan bagi setiap orang yang beranjak dewasa dan sedang mencari tujuan hidupnya. Pertanyaan seperti “apa yang aku ingin lakukan dalam hidupku?” “apa yang menjadi passionku?”. Dari apa yang menjadi pengalamanku, ternyata dihadapkan dalam suatu masalah adalah titik kritisnya. 

Terkadang adanya suatu masalah menjadi titik balik dalam hidup ini. Menjalani studi magister dengan jurusan yang berbeda dari apa yang aku pelajari di sarjana memberikan tantangan tersendiri, padahal saat itu aku juga sedang merencanakan pernikahanku. Ditambah kondisi pandemic membuat beberapa hal yang sudah pernah aku pikirkan sebelumnya menjadi bertentangan dengan apa yang terjadi. 

Saat itu, aku mencoba untuk memperoleh masukan dari berbagai pihak termasuk berkonsultasi dengan psikolog. Selama 3 bulan aku membuat jurnal untuk menuangkan setiap pemikiran dan perasaanku. Aku menemukan bahwa untuk menemukan jalanku, aku perlu menetapkan apa yang menjadi nilai personal atau hal yang penting dalam hidupku. 

Di atas segalanya, ternyata keluarga adalah penting bagiku. Aku ingin membangun keluarga bersama pasanganku nanti dan menjadi ibu yang bisa diandalkan serta membantu tumbuh kembang anak- anakku di masa depan.

Aku menyadari banyak hal yang belum aku pelajari dan dari yang aku diskusikan dengan psikolog saat itu, semua butuh waktu dan pengorbanan. Maka, pilihanku di masa lalu menjadi kurang relevan, aku menyadari bahwa pilihan itu tidak benar- benar hal yang menjadi prioritasku dalam hidup. 

Mungkin aku dulu hanya menginginkan pride, menjadi orang yang terpandang dengan pendidikan tinggiku. Dan semuanya aku lakukan, hanya demi memuaskan orang lain, demi pandangan orang lain terhadap diriku. Aku merasa salah berfikir, tapi aku berusaha menjadikan momen itu menjadi momen yang penuh pembelajaran. 

Keputusan yang aku ambil berikutnya tidak boleh keputusan yang salah lagi, maka masukan dan pandangan dari orang lain baik muda dan tua, kaya dan miskin, laki- laki dan perempuan, menjadi amat penting bagiku. Tujuannya hanya satu, aku ingin bijak mengambil keputusan.

Dalam artikel https://markmanson.net/question dikatakan bahwa tidak cukup menjadi sekedar tumbuh dan menjadi orang yang lebih baik. Tapi menjadi perlu untuk mendefinisikan apakah orang yang lebih baik itu. Apa yang kita cari dalam hidup ini, sesungguhnya ada di depan mata kita. 

Banyak tanda- tanda itu di sekitar kita, mungkin selama ini kita hanya memilih untuk menolak, tidak serius memikirkan serta tidak mengambil langkah dan keputusan akan hal tersebut. 

Love, Raysa

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *