Mudahnya Milenials Investasi saham dan Reksa Dana Dengan Kemajuan Teknologi di Era Digital

Di tulisan kali ini, saya akan membagikan hal yang sedikit berbeda dari tulisan saya sebelumnya, yaitu tentang literasi keuangan, investasi saham dan reksa dana. Berbekal sedikit pengalaman yang saya miliki, semoga ada manfaat yang dapat diambil.

Topik ini cukup relevan dengan kehidupan kita sebagai ibu muda, milenials, para wanita yang tangguh di luar sana yang ingin mencapai kemerdekaan finansial. Untuk itu selamat menikmati!

Pengantar

Masih teringat kala itu tahun 2018, pertama kalinya saya bekerja dan menerima gaji sebagai seorang fresh graduate. Rasanya senang, penuh syukur, bercampur bangga namun juga ada perasaan bertanya- tanya dalam hati. “Mau saya apakan ya gaji pertama ini?”.

Tentu sebagai rasa syukur dan terima kasih saya kepada kedua orangtua yang sudah mendukung perjalanan hidup saya, saya ingin membelikan kedua orangtua dan adik- adik saya makanan yang enak dan nikmat. Makanan yang mereka sukai. Lalu, bagaimana dengan gaji sisanya? Apakah saya memiliki keinginan untuk membeli sesuatu yang belum terwujud?

menabung vs investasi saham dan reksa dana
(sumber: www.google.com)

“Ah iya, mungkin kebutuhan pribadi saya, seperti skincare. Tapi saya bisa membelinya digaji kedua, ketiga atau gaji- gaji saya berikutnya. Itu tidak terlalu mendesak”.

Kemudian saya teringat kembali niat saya mengambil pekerjaan ini sehingga harus menunda pendidikan S2 saya yang mana kala itu saya sesungguhnya sudah mengantongi sertifikat IELTS dengan skor 7 dan juga Letter of Acceptance dari Wageningen University di Belanda dan Lund University di Swedia.

Ya, saat itu saya berniat untuk menikah. Tidak ingin terlalu merepotkan orangtua dan tentunya untuk menikah saya perlu menabung. Pertanyaan selanjutnya adalah,

“Bagaimana cara menabung yang benar ya?”.

Sejak kecil saya memang cukup terbiasa untuk menabung. Jika diberikan uang saku oleh kedua orangtua ataupun uang hadiah lebaran dari sanak saudara, biasanya saya menyimpan uang tersebut di celengan atau amplop terpisah.

Di zaman sekolah dulu, biasanya saya menabung untuk membeli buku atau baju baru yang saya inginkan. Pernah juga menabung untuk menambah uang orangtua ketika membelikan gadget baru.

Namun kali ini saya rasa situasinya berbeda. Saya membutuhkan cara menabung yang tidak hanya untuk menyimpan, namun juga memiliki value lebih sehingga saya bisa merasakan manfaat menabung itu sendiri secara langsung. Saya ingin mandiri secara finansial, meraih tujuan keuangan di masa depan.

Apakah itu dengan cara mengikuti arisan? Reksa dana? Emas Deposito? Saham? Well, we will see.

Momen Pertama Berkenalan dengan Instrumen Investasi

Niat belajar mengelola keuangan itu nampaknya segera bersambut. Saat itu di akhir pekan, saya sedang asyik berbincang dengan keluarga sambil menikmati teh hangat dan roti bakar bikinan ibu. Saya merasa ingin untuk membaca koran online yang sudah lama tidak saya baca karena sibuk bekerja.

Dalam salah satu artikel koran tersebut saya menemukan artikel tentang reksa dana sebagai investasi dana mudah bagi pemula. Investor reksadana dapat melakukan diversifikasi investasi tanpa harus memiliki modal yang besar. Sebagai pemula, kita dapat merasakan manisnya keuntungan berinvestasi di pasar modal.

Di akhir artikel disebutkan bahwa akan diadakan sebuah talkshow dari perusahaan milenials tersebut tentang cara berinvestasi reksadana serta manajemen keuangan personal yang lokasinya di Jakarta Selatan.

Setelah membaca profil perusahaan dan juga profil direktur beserta staffnya saya merasa tertarik. Saya pun mendatangi talkshow tersebut dan di situlah kali pertama saya berkenalan dengan investasi reksadana.

What’s Next?

Semenjak berkenalan dengan investasi reksadana, saya semakin bersemangat untuk bekerja. Tentunya untuk memperoleh tujuan finansial di masa depan. Tiap kali saya mendapatkan gaji di akhir bulan, saya memisahkan anggaran di awal dan mengalokasikan 30% uang saya untuk berinvestasi reksadana.

Tidak hanya benefit bagi hasil yang saya peroleh namun saya juga merasa bermanfaat karena dana yang saya investasikan dapat membantu modal usaha mikro masyarakat di Indonesia. Tentunya meningkatkan perekonomian di Indonesia. Bahkan baru- baru ini terdapat reksa dana syariah yang dalam pengelolaannya mengikuti ketentuan dan prinsip islami.

Setelah merasa aman berinvestasi reksa dana selama 2 tahun dan melaksanakan pernikahan pada tahun 2020, saya ingin melebarkan sayap pengetahuan keuangan saya ke instrumen investasi lain. Hal ini sejatinya karena setelah menikah, saya dan suami akan mulai mempersiapkan dana untuk masa depan anak, dana pensiun, modal bisnis dan lain sebagainya.

Mencicipi Serunya Investasi Saham

Kebetulan momennya pas dengan kondisi pandemi yang saat itu kita hadapi. Saat itu memang terbilang investasi saham menjadi naik daun, orang- orang berbondong- bonding untuk membeli saham. Berinvestasi saham terlihat bak gaya hidup penuh kekinian.

Hasil survei tahun 2021 mencatat, jumlah investor di Pasar Saham Indonesia mencapai 6,1 juta jiwa. Dan dari rentang usia, investor dari Gen Z dan Milenials paling banyak mulai membeli saham dan reksa dana dalam 2 tahun terakhir.

Manajer Riset Katadata Insight Center Vivi Zabkie mengatakan, dalam survei tersebut, sebanyak 41,3 persen generasi milenial mengaku mulai membeli saham pada 1-2 tahun terakhir. Sedang di kelompok usia Gen Z, terdapat 48,1 persen yang mengaku baru membelinya kurang dari 1 tahun terakhir.

Dan berikut data mengenai pilihan instrumen investasi yang banyak dipilih selama masa pandemi.

Hal itu juga terjadi pada saya dan suami. Memiliki cukup tabungan dan uang dingin di awal pernikahan, saya dan suami cukup nekat untuk belajar investasi saham. Kami memulai dengan dana sebesar 3 juta rupiah.

Langkah awal yang kami lakukan setelah memahami apa itu investasi saham, yaitu memilih sekuritas yang terpercaya, lalu membeli saham dari perusahaan yang sudah dikenal. Hal ini tentunya karena kami tahu jenis produk yang dimiliki dan kami dapat memantau hasil kerja perusahaan itu. 

Jangan seperti membeli kucing dalam karung. Bagi pemula ada baiknya membeli saham blue chip atau saham dari perusahaan bereputasi tinggi karena secara kinerja sudah stabil dan tentunya sering membagikan deviden. Contoh saham blue chip yaitu BBCA, BBRI, INDF, TLKM dan lain sebagainya.

Langkah selanjutnya yaitu belajar membaca grafik saham, melalui titik tertinggi dan terendah. Kita juga perlu mempelajari analisis fundamental dan teknikal sehingga kita mengetahui kapan waktu yang tepat untuk membeli, menjual dan menyimpan suatu saham. Jangan lupa juga untuk selalu memantau dan up to date terhadap pergerakan harga saham.

Kami belajar perlahan dan bertahap melalui Youtube, sosial media dan juga artikel- artikel di internet untuk memahami pasar saham. Beberapa kali untung, beberapa kali buntung. Proses pembelajaran dalam berinvestasi menjadi bekal ilmu tersendiri bagi saya dan suami untuk menentukan strategi keuangan di masa depan.

Dari dua jenis instrumen investasi yang saya sebutkan di atas yaitu reksadana  dan saham, namun sebenarnya apa yang membedakan keduanya?

Perbedaan Reksa Dana dan Saham

Secara sederhana, perbedaan pertama terletak pada pengelola investasi. Reksadana sebagai instrumen investasi dikelola oleh manajer investasi, seorang yang kompeten dan tersertifikasi dalam mengelola dana investasi.

Kita sebagai investor mempercayakan dana investasi kita kepada manajer investasi tersebut agar nilai investasinya bertambah tentunya kita juga akan memperoleh laporan hasil investasi. Sedangkan saham sebagai instrumen investasi dikelola langsung oleh kita sebagai investor sekaligus pengelola dana.

Pada investasi saham, kitalah yang bertugas memantau pergerakan saham, melakukan jual beli saham secara langsung serta menganalisa kondisi keuangan dari saham yang kita beli.

Perbedaan kedua yakni pada tingkat resiko investasi. Reksadana yang dikelola oleh manajer investasi berpengalaman membuat instrumen ini memiliki tingkat resiko yang lebih rendah dibandingkan investasi saham yang kita kelola sendiri. Reksadana meminimalisir resiko salah beli bagi pemula.

Perbedaan ketiga adalah minimal dana yang diinvestasikan. Pada investasi saham setiap sekuritas memiliki kebijakan tersendiri tentang berapa dana minimal yang diinvestasikan. Umumnya berkisar mulai dari Rp. 500.000,- hingga Rp. 5.000.000,-.

Namun untuk reksadana sendiri minimal dana yang disetorkan lebih rendah bisa mulai dari Rp. 50.000,-. Hal ini dikarenakan manajer investasi akan menghimpun dana dari banyak investor untuk digabungkan membeli saham bersama. Tentunya sangat terjangkau bagi para investor pemula.

Perbedaan keempat adalah barang atau objek yang dapat dibeli. Pada reksa dana produk yang ditawarkan dan dapat dibeli kita berupa surat utang, obligasi, deposito, dan sebagainya. Sedangkan pada investasi saham kita membeli aset suatu perusahaan, sehingga kita akan memperoleh hak milik dengan keuntungan berupa dividen.

Perbedaan kelima sekaligus terakhir yaitu tarif pajak yang dikenakan. Pada investasi saham, kita dikenakan pajak sebesar 0,1% dari nilai penjualan saham. Sedangkan pada reksadana tidak dikenakan pajak karena ditanggung manajer investasi.

Pengalaman saya pribadi pun begitu, ketika masih belajar berinvestasi sebagai fresh graduate, saya memilih berinvestasi melalui reksadana terlebih dahulu karena kemudahan dan kepraktisan yang saya dapatkan. Namun setelah beberapa tahun kemudian, saya mulai menjajaki investasi saham dengan belajar melalui kanal- kanal online. Harapannya tentunya mendapatkan keuntungan yang lebih besar lagi.

Manfaat Investasi Saham dan Reksa Dana

Ketika pertama kali berkenalan dengan instrumen investasi, saya merasakan manfaat positif terhadap diri saya terutama disiplin dalam mengelola keuangan. Ternyata manfaat itu juga saya rasakan kepada kesiapan dana di masa depan.

Khususnya bagi teman- teman yang menginvestasikan dana untuk menikah, investasi saham dan reksadana menjadikan dana teman- teman lebih aman dan lebih siap untuk nantinya digunakan.

“Manfaat berinvestasi yang dirasakan kepada diri sendiri dan pasangan kelak juga timbulnya kepuasan dan kebahagiaan dalam menjalani hidup karena segalanya lebih terukur dan terencana”.

Revolusi DigitaI
pada Investasi
Saham dan Reksa Dana

Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi informasi dan internet, transaksi investasi pasar saham dan reksa dana semakin meningkat. 

Sebagai milenials kita memperoleh kemudahan dengan adanya fasilitas online berinvestasi saham dan reksa dana yang diberikan oleh perusahaan sekuritas. Kita dapat berinvestasi kapan pun dan dimana pun selama kita dapat mengakses internet. 

Menurut Terry 2008, revolusi digital berarti perubahan sesuatu yang semula tangible menjadi sesuatu yang dapat diolah komputer. Meskipun teknologi sudah ada cukup lama namun kemasifan penggunaan memang baru kita rasakan belakangan ini.

Saya pun juga menyadari kemudahan informasi yang saya dapatkan ini ketika pertama kali berkenalan dengan reksa dana adalah berkat teknologi informasi dan internet yang semakin maju.

Semakin hari kita semakin terbiasa memanfaatkan smartphone dan komputer dalam kegiatan bisnis dan investasi. Perkembangan jaringan koneksi internet membuat saya dan masyarakat lain menjadi digital savvy.

Dalam sebuah survei, mayoritas responden atau 79,6 persen membeli reksadana melalui aplikasi online, ada juga yang membeli lewat e-Wallet (15,8 persen) dan marketplace (14,7 persen). Hal ini terlihat mayoritas investor memanfaatkan perkembangan teknologi untuk melakukan investasi.

Beberapa teknologi lain seperti DLT (Blockchain), Artificial Intelegence, Advances Analytics dan Cloud Computing telah diterapkan untuk melakukan berbagai keperluan keuangan yakni investasi saham dan reksa dana hingga bitcoin. Aktivitas menjadi mudah dan ringkas.

Dalam perjalanan saya berinvestasi saham dan reksa dana terdapat beberapa peran teknologi digital seperti:

  1. Membuka Akses Informasi Secara Lebih Luas

Keberadaan aplikasi koran digital untuk update informasi, e-book, workshop digital berkala dan media sosial memberikan kemudahan kita untuk belajar keuangan, investasi hingga tools- tools online yang dipakai untuk analisis pergerakan saham seperti Tradingview.

Dengan hanya bermodalkan internet dan smartphone kita bisa menggunakan mesin pencari seperti Google untuk mencari informasi yang kita butuhkan. Kita dapat mengakses laporan keuangan, tren saham, menilai return, pemberitaan dan resiko saham perusahaan dengan sistem online.

Akses informasi terbuka secara lebih luas, kini investasi saham bukan melulu untuk orang yang berduit dan sudah berkecimpung lama di dunia investasi. Milenials dan Gen Z juga mampu berperan di dunia investasi dan trading.

  1. Menekan Biaya Operasional Menjadi Lebih Murah

Kini sebagai milenials kita terbiasa untuk tidak harus mengunjungi kantor Bursa Efek untuk memperoleh informasi mengenai pergerakan saham. Tidak perlu juga untuk ke kantor bank, ATM ataupun kantor pos untuk mengirim sejumlah uang.

Kita hanya perlu menginstall aplikasi mobile banking dan juga aplikasi investasi saham maupun reksa dana online kita bisa berinvestasi kapan pun dan dimana pun. Biaya operasional menjadi jauh lebih murah.

  1. Menstandarisasi Pelayanan Pelanggan

Dengan adanya kemajuan teknologi dan layanan internet, kita sebagai pelanggan dapat dengan mudah melakukan proses pembelian, pemesanan, pembayaran serta penyampaian segala keluh kesah tentang penggunaan suatu aplikasi investasi saham dan reksa dana dari suatu sekuritas.

Layanan menjadi lebih mudah dan cepat untuk diakses masyarakat. Dampaknya bagi perekonomian pun begitu besar, sektor bisnis dapat bekerja lebih efisien untuk memperoleh hasil maksimal yang ingin dicapai.

  1. Memudahkan Transaksi Keuangan

Dimulai dari pembukaan rekening hingga proses transaksi kita tidak perlu menghabiskan waktu untuk datang ke kantor manajemen investasi yang kita gunakan.

Melalui aplikasi berbasis fintech, segala proses investasi dapat berjalan lancar dan dengan mudah dapat kita kontrol secara real time.  Sebagai investor kita dapat merasakan kemudahan dalam pengambilan keputusan.

Namun Perlu Diketahui …

Tidak selamanya investasi saham dan reksa dana selalu menguntungkan. Ketika baru mengenal investasi saham dan reksa dana dulu contohnya, disamping merasakan hari- hari untung, saya pernah merasakan hari- hari buruk.

Saya pernah terjebak saham gorengan yang menyebabkan kerugian modal. Saya pernah mengalami gagal bayar melalui investasi reksa dana yang mengajarkan saya untuk lebih teliti dan berhati- hati dalam melakukan pendanaan.

Lalu, saya pernah melakukan investasi pada waktu yang salah. Membeli saham atau instrument investasi lain ketika sedang di puncak, dan ujung- ujungnya harus menjual rugi.

Dari sisi operasional dan pasar saham serta reksa dana, cyber risk juga perlu menjadi fokus utama. Dengan maraknya digitalisasi memungkinkan untuk para hacker mencoba peruntungannya dan ini tentunya merugikan konsumen.

Peran OJK sebagai Otoritas Jasa Keuangan Indonesia sangat kritikal dalam penanganan dan pengembangan protokol keamanan transaksi keuangan.

Bagi teman- teman yang tertarik berinvestasi. Saya bagikan juga 3 tips penting memulai investasi untuk pemula sehingga teman- teman dapat merasakan pengalaman investasi yang aman, terpercaya dan profesional.

Tips Investasi Bagi Pemula

  1. Mengetahui Tujuan Investasi dan Mengatur Keuangan

Agar investasi lancar kita perlu mengatur keuangan dengan menabung atau meningkatkan penghasilan. Dengan cashflow yang aman kita akan tetap bisa berinvestasi dengan nyaman juga. Hal ini juga penting di tengah tingkat inflasi saat ini yang melonjak tinggi.

Ya, sebelum berinvestasi pastikan kita memiliki dana darurat ketika masa sulit datang. Ada baiknya juga kebutuhan primer sudah terpenuhi. Ada baiknya menggunakan dana dingin untuk berinvestasi.

Selain itu, dengan mengatur keuangan kita dapat menyadari sejak awal periode menabung atau investasi yang kita terapkan adalah untuk jangka pendek atau jangka panjang. Hal ini berkaitan dengan jumlah profit yang diterima.

Tentunya jika kita melakukan investasi untuk jangka pendek profitnya tidak sebesar jika untuk menabung dalam jangka waktu panjang.

  1. Melakukan Riset Sebelum Berinvestasi

Sebelum berinvestasi ada baiknya kita melakukan riset terlebih dahulu. Tujuannya untuk memperbesar peluang keuntungan dan meminimalisir segala resiko kerugian yang ada.

Riset ini dilakukan untuk menentukan indeks saham yang tepat, mengenal instrumen investasi maupun memilih sekuritas atau broker yang aman dan terpercaya dengan sudah terdaftar di OJK dan anggota Bursa Efek Indonesia (BEI).

Broker atau sekuritas dengan biaya rendah dari jumlah pembelian saham juga perlu dicermati sehingga kita tidak dirugikan pada biaya transaksinya. Dalam memilih sekuritas, menggunakan sekuritas yang menawarkan teknologi aplikasi yang dapat diakses melalui smartphone juga memberikan kemudahan tersendiri.

  1. Investasi Sesuai Profil Resiko Masing- Masing

Investasi bukan untuk ikut- ikutan trend. Inilah yang saya rasakan. Kita perlu mempelajari dan mengetahui instrument investasi yang sesuai dengan profil resiko kita. Bagi saya reksa dana adalah instrument investasi dengan profil resiko paling rendah dan cocok untuk pemula.

Bincang- bincang soal profil resiko investasi, terdapat 3 macam resiko yang perlu kita ketahui sebelum memutuskan untuk berinvestasi agar tidak merugi besar.

Pertama yaitu High Risk, High Return. Instrumen investasi ini adalah saham. Kedua yaitu Medium Risk, Medium Return. Contohnya adalah reksa dana. Terakhir yaitu Low Risk, Low Return. Contohnya deposito. Pilihlah jenis investasi yang sesuai dengan profil resiko keuangan kita masing- masing.

Kemudahan Investasi Saham dan Reksadana Bersama SFAST SEKURITAS

Bersama SFAST SEKURITAS: Aplikasi investasi dan Saham Online dari PT Surya Fajar Sekuritas kemudahan berinvestasi saham dan reksadana untuk mecapai tujuan keuangan di masa depan bukan hanya sekedar angan- angan.

Aplikasi SFAST memiliki beberapa kelebihan yaitu mempermudah kita bertransaksi jual-beli saham dan reksa dana sekaligus dalam satu aplikasi. Hanya dengan satu genggaman saja, sekali melakukan Login kita dapat melakukan transaksi dengan mudah, efisien, dan simpel.

Selain itu, SFAST juga mengenakan biaya administrasi yang terjangkau, sehingga sangat menguntungkan investor dalam bertransaksi. 

Kelebihan lain dari Aplikasi SFAST  antara lain aman karena sudah terawasi oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan), user friendly yakni simpel dan mudah digunakan, smart karena terdiri dari beragam produk investasi dalam satu aplikasi serta up to date terhadap informasi.

Informasi yang tersaji gratis mulai dari data keungan perusahaan, data jual-beli, riset keuangan, analisis reksa dana, berita keuangan dan lain sebagainya. Kita dapat menggali informasi sebanyak- banyaknya demi terwujudnya kebebasan finansial sedini mungkin bersama SFAST.

Untuk memulai investasi cukup dengan 3 cara mudah yaitu mendaftarkan diri melalui pengisian data informasi, mendownload aplikasi melalui Google Playstore dan AppStore, lalu melakukan investasi.

Langkah- langkah berinvestasi SFAST

Penutup

Terakhir perlu diingat ya, sebelum melakukan investasi khususnya investasi saham kita perlu menyiapkan dana dingin, membuka rekening efek dan melakukan analisis. Analisis ini berupa analisis fundamental (profil perusahaan yang kita danai) dan analisis teknikal (harga, titik tertinggi dan terendah suatu nilai saham). 

Dengan hadir dan majunya perkembangan teknologi informasi dan internet, investasi saham dan reksa dana menjadi mudah dan makin terjangkau bagi semua kalangan, khususnya generasi milenials dan Gen Z yang dekat dengan gadget.

Informasi dan transaksi dapat dilakukan secara transparan dan dapat diakses melalui genggaman. Jadi, tunggu apalagi? Jangan ragu untuk berinvestasi saham dan reksa dana sekarang juga!

Sumber Penulisan:

Hasil survey, 2 Tahun Terakhir Investasi Saham Dan Reksadana Diminati Generasi Z

https://investor.id/archive/minat-investor-terhadap-saham-dan-reksa-dana-meningkat

https://www.cnbcindonesia.com/opini/20220131120420-14-311758/revolusi-digital-pasar-modal-indonesia-potensi-risiko

***

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba SFAST Creative Blog Competition 2022.

Leave a Comment

Your email address will not be published.