Peneliti Muda Indonesia Berjuang Memajukan Bioinformatika bersama ASUS Vivobook Pro 14 OLED

Belajar dan berkarya tidak boleh dihentikan dengan segala keterbatasan diri dan situasi. Manfaatkan semua peluang untuk meningkatkan kapasitas diri dimana pun, kapan pun dan dengan siapa pun juga – Helen Keller

Kutipan dari seorang Helen Keller. Jika berkecimpung di dunia ilmu pengetahuan, maka nama Helen Keller sudah tidak asing lagi didengar. Seorang ilmuwan perempuan dengan keterbatasan fisik yang mampu sukses dan berprestasi di kancah internasional.

Mungkin sosok seperti Helen Keller dan sosok ilmuwan dunia lainnya juga yang memotivasi suami saya untuk terus maju dan berkarya. Seorang bioinformatician atau peneliti muda bioinformatika Indonesia yang bagi saya tidak pernah kehabisan akal untuk memanfaatkan peluang

Mengenal Bioinformatika

Ketika mendengar istilah bioinformatika dan bioteknologi, bayangan sebagian kita adalah sosok- sosok manusia yang bekerja dengan teknologi canggih dan mumpuni dengan pekerjaan mengolah data- data biologi yang terkomputerisasi dengan program yang juga rumit.

PENGERTIAN BIOINFORMATIKA

Ilmu bioinformatika di Indonesia sedang naik daun dan diyakini sebagai jurusan prospektif di masa depan. Di era pandemi Covid-19, para ilmuwan bioinformatika terlibat dalam upaya deteksi virus Covid-19 berbasis PCR, khususnya berperan dalam pengolah data sekuens genetik virus sehingga diketahui strain dan potensi penyebarannya.

Selain itu, analisis data-data genetik virus dan status klinis pasien juga penting dilakukan untuk menjadi dasar penetapan kebijakan pemerintah. Di situlah dapat kita ketahui peran penting peneliti bioinformatika di era pandemi yang kemarin kita lalui bersama.

Ilustrasi Bioinformatician (www.freepik.com)

Terdapat beberapa hal yang dikerjakan seorang ilmuwan atau peneliti bioinformatika. Beberapa di antaranya yaitu analisis data genomik (DNA), analisis hasil Next Generation Sequencing (NGS), mengolah data Genome Wide Association Studies (GWAS), simulasi dinamik molekuler, modeling dan visualisasi protein, serta skrining kandidat obat dan juga analisis evolusi molekular

Bidang pekerjaan tersebut membutuhkan teknologi komputer yang handal dan mumpuni karena pekerjaannya melibatkan data yang berukuran sangat besar (big data). Oleh karena itu membutuhkan perangkat penyimpanan data dengan kapasitas yang besar, prosesor dengan kecepatan pemrosesan yang tinggi, RAM yang memadai, dan kartu grafis yang mendukung.

Pentingnya Bioinformatika di Masa Depan

Sebuah survei menunjukan antara tahun 2020 dan 2027 pasar bioinformatika global akan meningkat sebesar 13,4% setiap tahunnya seiring dengan pertumbuhan bisnis biologis dan klinis yang semakin berupaya menyajikan layanan berbasis data ini.

Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Inovasi I3L (Institute for Life Sciences), Arli Aditya Parikesit menyatakan penting bagi anak muda Indonesia untuk belajar bioinformatika. Jika data biologis dapat diolah dengan baik maka akan mendapatkan informasi yang bermanfaat untuk perkembangan ilmu pengetahuan khususnya kedokteran seperti penerapan vaksin mRNA COVID-19. 

Tidak hanya itu, penerapan bioinformatika juga signifikan pada desain obat HIV/AIDS, kemudian masalah lingkungan, pengolahan limbah, pangan dan suplemen kesehatan. Parikesit juga menambahkan bahwa dengan bioinformatika, prediksi terjadinya pandemi dapat dilakukan lebih cepat, tepat dan akurat. Dan segala hal itu tentunya didukung dengan keberadaan komputer super yang mendukung teknologi cloud dalam simulasi molekuler.

Dari penjelasan ahli di atas, kita semakin menyadari pentingnya pengembangan ilmu bioinformatika khususnya di Indonesia. Semakin berkembangnya penelitian di bidang tersebut maka segala permasalahan di dunia mulai dapat kita pecahkan.

Perjuangan dan Tantangan Seorang Bioinformatician

Seperti yang sudah di sampaikan di atas, seorang ilmuwan atau peneliti bioinformatika membutuhkan teknologi komputer yang memadai untuk menunjang pekerjaannya. Namun sebagai seorang peneliti bioinformatika, kenyataannya suami bekerja dengan berbekal laptop keluaran tahun 2015. Laptop ini hadiahnya meraih hibah untuk penelitian skripsi. Kini keadaannya cukup membuat hati saya miris.

Kondisi Laptop Perjuangan Peneliti Bioinformatika (dok. pribadi)

Mulai dari laptop yang harus selalu terhubung dengan charger, layar yang tiba- tiba nge-hang, kedap-kedip dan mati (blankout), tombol keypad yang mulai terlepas satu per satu, tombol trackpad yang sudah tidak dapat ditekan, hingga kursor yang tidak mau digerakkan karena kapasitas kinerja perangkat yang yang tidak mendukung software yang berat.

Padahal pekerjaan yang ia lakukan sehari- hari yakni bergulat dengan data yang seringkali berukuran besar. Tentu saja ini menyebabkan pekerjaannya terhambat.

Ya, suami memang harus bersabar untuk memiliki laptop impian karena saat ini kami perlu membagi pengeluaran keuangan kami di tengah kondisi saya yang sedang hamil dan akan segera melahirkan.

Tidak jarang suami harus menghubungkan dengan perangkat peripheral seperti layar eksternal dan keyboard eksternal untuk mendukung pengerjaan. Bahkan seringkali harus menghabiskan waktu semalaman hingga beberapa hari untuk melakukan proses rendering hasil modeling. 

Beberapa Contoh Hasil Pekerjaan Suami sebagai Peneliti Bioinformatika (Sumber: Diolah Pribadi)

Dalam beberapa kesempatan suami juga harus meminjam laptop rekannya untuk menganalisis data. Hal ini karena perangkat yang dimiliki tidak didukung dengan prosesor dan RAM yang memadai untuk menjalankan software analisis data

Sebagai contoh untuk menjalankan molecular dynamic simulation untuk mempelajari interaksi antara protein dan obat membutuhkan RAM minimal 16 GB dan didukung dengan GPU yang mumpuni agar pemrosesan data tidak memakan waktu yang lama. Selain itu jenis jumlah inti dalam prosesor yang cakap juga diperlukan untuk menghindari produksi panas yang berlebih dan mempercepat pemrosesan data.

Namun terlahir sebagai seorang pejuang, akan selalu menjadi pejuang. Dengan keterbatasan teknologi yang ia gunakan, suami tetap mampu produktif dan menyelesaikan apa yang menjadi tugas dan kewajibannya. Ia selalu berkata kepada saya,

Segala sesuatu harus diperjuangkan dahulu hingga titik darah penghabisan, soal hasil semua akan mengikuti prosesnya.

Pengorbanan dan perjuangan yang ia lakukan terbukti mulai dari menyelesaikan tesis S2-nya dari University of Queensland, Australia dengan beasiswa LPDP lalu mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal terindeks Scopus Q1 hingga saat ini bekerja sebagai peneliti Bioinformatika di salah satu lembaga riset dan perguruan tinggi di Jakarta. 

Prestasi Tembus Jurnal Scopus Level Q1 (Sumber: Dok. Pribadi dan Diolah Dengan Canva)

Sebagai istri, saya sangat bangga sekaligus terharu dengan segala kegigihan yang suami saya lakukan. Semua ini ia lakukan selain untuk meningkatkan derajat sebagai manusia yang berilmu, membanggakan orangtua dan keluarga tetapi juga sebagai wujud pengabdiannya memajukan ilmu pengetahuan di Indonesia. 

Dengan apa yang ia telah lakukan, saya merasa ia adalah sumber inspirasi saya untuk tetap bersemangat dan berkarya. Saya juga berharap bahwa di masa depan ia akan terus bisa mencapai cita- citanya dengan bekerja produktif bersama laptop yang powerful dan berteknologi tinggi

Teknologi Komputer Penunjang Pekerjaan di Bidang Bioinformatika

Laptop keluaran terbaru dari ASUS yakni ASUS Vivobook Pro 14 OLED (M3400) menjawab segala kebutuhan bioinformatician muda Indonesia dengan pekerjaan yang bergulat dengan data biologis. Bagaimana tidak?

ASUS Vivobook Pro 14 OLED

Prosesor Sebagai Pertimbangan Utama

Hadir dengan ditenagai AMD Ryzen™ 5000 H-Series Mobile Processors yang memiliki full powerful performance core untuk multitasking bahkan video editing. Selain powerful, prosesor ini memberikan daya baterai lebih awet sehingga produktivitas harian semakin maksimal.

Dilengkapi dengan kartu grafis integrasi AMD Radeon yang memberikan performa gaming yang tanpa lag. Produktivitas harian dimanapun dan kapanpun jadi maksimal dengan performa prosesor dan kartu grafis dari AMD ini.

Varian tertinggi Vivobook Pro 14 OLED (M3400) akan ditenagai oleh AMD Ryzen™ 7 5800H Mobile Processor. Prosesor tersebut menggunakan konfigurasi 8-core dan 16-thread serta mampu berjalan di frekuensi hingga 4,4GHz. Prosesor dengan spec seperti ni memungkinkan kinerja prosesing data yang cepat dan efisien tanpa potensi lag.

Vivobook Pro 14 OLED (M3400) juga dibekali dengan memori berkapasitas hingga 16GB, membuatnya selalu andal untuk berbagai aktivitas termasuk multitasking. Selain itu penyimpanan PCIe SSD berkapasitas 512GB, memungkinkan penyimpanan data yang besar dan akses yang lebih cepat daripada teknologi HDD.

Ditambah lagi ASUS membekali Vivobook Pro 14 OLED (M3400) dengan sistem pendingin IceCool Plus terbaru. Sistem pendingin tersebut ditenagai oleh dua kipas khusus berbahan Liquid Crystal Epoxy Polymer (SCP) sehingga dapat hadir dengan 86 bilah di setiap kipasnya.

Sistem pendingin ASUS IceCool Plus mampu menghadirkan aliran udara 16% lebih baik serta memastikan Vivobook Pro 14 OLED (M3400) dapat selalu bekerja secara optimal dan terhindar dari permasalahan overheating.

Fitur Lain yang Membantu Produktivitas

Laptop ini benar- benar cocok untuk bioinformatician seperti suami saya, mengapa?

1. Prosesor AMD Ryzen™ 5000 H-Series 
(sumber: dok. ASUS)

Prosesor AMD Ryzen™ 7 5800H Mobile Processor mampu mendukung kinerja karena jumlah core yang mencapai 8-core/16-thread memungkinkan pembagian pekerjaan dalam mengolah data sehingga pemrosesan data dapat berlangsung lebih cepat.

Prosesor setingkat ini jelas mendukung berjalannya software yang digunakan dalam bidang bioinformatika, terlebih terkadang harus menjalankan beberapa program sekaligus (multitasking).

Prosesor ini juga mendukung kinerja grafis terbaik dengan kartu grafis terintegrasi AMD Radeon sehingga dapat melakukan tugas multimedia seperti rendering 3D secara lebih cepat

RAM yang mencapai 16 GB dapat memfasilitasi software yang membutuhkan kapasitas RAM yang besar dalam menjalankannya. Pada umumnya software bioinformatika memang membutuhkan kapasitas memori yang besar.

Tidak hanya memiliki performa komputasi yang sangat andal tetapi juga dapat hadir dengan daya tahan baterai yang panjang. Produktivitas dapat meningkat dan say good bye to nge-lag.

2. Layar ASUS OLED
(sumber: dok. ASUS)

Teknologi layar OLED berbeda dengan layar IPS teknologi sebelumnya. Layar ini menjamin akurasi warna sehingga kualitas visual sangat tajam. Warna yang kaya dan warna hitam yang pekat ini mendukung kontras yang lebih baik dan membuat gambar semakin nyata. Ini akan mempermudah dalam pekerjaan seperti protein 3D modelling.

Selain itu, bidang kerja lebih luas dengan rasio layar 16:10, serta adanya teknologi low blue light dan anti-flicker. Layar ini memiliki emisi cahaya biru yang lebih minim sehingga tidak mengganggu kesehatan mata.

Teknologi yang digunakan memungkinkan menggeser spektrum cahaya biru ke spektrum cahaya yang lebih ramah terhadap mata sehingga tidak perlu mengorbankan akurasi warna yang ditampilkan. Sekali lagi, teknologi ini benar membantu menjaga kesehatan mata peneliti muda yang saat ini banyak yang berkaca-mata seperti suami saya. 

3. Penampilan body yang ramping, ringkas dan tipis
(sumber: dok. ASUS)

Tentunya sangat membantu keseharian bioinformatician yang terkadang memiliki pekerjaan mobile dan dinamis di beberapa tempat di Indonesia. Seperti mengujungi pabrik obat, perguruan tinggi di luar kota serta fasilitas kesehatan dan perusahaan di luar Jawa.

Bobot yang ringan juga membantu meminimalkan resiko sakit punggung yang sering dialami oleh pasangan. So, no more backpain karena beban laptop yang terlalu berat.

4. Backlit keyboard 
(sumber: dok. ASUS)

Keyboard jenis ini memudahkan peneliti bioinformatika saat pengerjaan naskah publikasi atau penulisan laporan yang seringkali dilakukan hingga larut malam dan dalam pencahayaan rumah yang redup. Susunan keyboard juga menawarkan kenyamaan dalam mengetik.

5. Next-level ASUS AI Noise-Canceling Technology
(sumber: dok. ASUS)

Teknologi ini bermanfaat untuk menghilangkan noice pada saat melakukan video conference yang rutin dilakukan dengan supervisor, rekan kerja, atau partner penelitian dari institusi pendidikan lain. Fitur webcam shield juga memastikan keamanan privasi saat tidak ingin menampilkan gambar diri.

Harga dan Spesifikasi Lengkap

Berkembang pesatnya ilmu bioinformatika dan prospek kerjanya di Indonesia masa depan membuat jurusan ini semakin banyak diminati. Kehadiran laptop Vivobook Pro 14 OLED (M3400), laptop powerful dengan layar berteknologi ASUS OLED serta dibanderol dengan harga yang super terjangkau tentunya menarik hati.

Tak hanya menarik hati para praktisi dosen dan peneliti bioinformatika di Indonesia tapi juga para calon mahasiswa bioinformatika. 

Perbandingan Harga ASUS Vivobook Pro 14 OLED per September 2022 (sumber: asus.com dan diolah dengan Canva)

Terdapat 3 varian laptop Vivobook Pro 14 OLED yaitu AMD Ryzen™ 5 5600H 8GB RAM, AMD Ryzen™ 5 5600H 16 GB RAM dan AMD Ryzen™ 7 5800H 16 GB RAM.

Dengan harga di bawah Rp13 juta, kita mendapatkan sebuah laptop dengan performa mumpuni.

Untuk melihat lebih lengkapnya agar semakin yakin memiliki laptop ini berikut spesifikasi lengkap dari ASUS Vivobook Pro 14 OLED:

infografis ASUS Pro 14
Sisi Spesifikasi ASUS Vivobook Pro 14 OLED (Diolah dengan Canva)

Brand ASUS sendiri sudah begitu familiar dan dipercaya oleh masyarakat Indonesia secara umum. ASUS memimpin industri teknologi melalui desain serta inovasi canggih untuk menghasilkan perangkat cerdas terbaik yang dapat dinikmati oleh semua penggunanya. Hal ini dibuktikan dengan ASUS memenangkan 61.520 penghargaan dari organisasi teknologi terpandang dan media IT dari seluruh dunia sejak tahun 2001 lalu.

Penutup

Berfoto Bersama Teman- Teman Indonesia di University of Queensland (dok. pribadi)

Sebagai seorang peneliti muda, suami membutuhkan perangkat dan teknologi yang mumpuni agar semakin produktif dan khasanah keilmuwan bioinformatika di Indonesia semakin maju. Teknologi ASUS Vivobook Pro 14 OLED (M3400) mendukung produktivitas tersebut.

Sebagai seorang istri, tidak ada yang lebih membahagiakan melihat kesuksesan suami dalam pekerjaannya. Rasanya ingin selalu mendukung dan mendoakan yang terbaik. Semoga saya bisa turut serta mewujudkan kebutuhan tersebut. Semoga perjuangan sosok suami sebagai peneliti muda memajukan bioinformatika di Indonesia bersama ASUS Vivobook Pro 14 OLED terwujud.

Laptop ASUS Vivobook Pro 14 OLED sangat cocok mendukung pekerjaan peneliti bioinformatika karena memiliki prosesor yang powerful, layar OLED dengan warna nyata dan teknologi ramah mata. Kemudian, body yang ramping, ringan dan ringkas untuk dibawa kemana saja, serta deretan fitur lain yang luar biasa memukau. Terakhir, harga yang terjangkau untuk berbagai kalangan.

Perjuangan para ilmuwan dan peneliti memajukan keilmuan bioinformatika di Indonesia tampak semakin di depan mata dan perlahan akan menjadi kenyataan bersama ASUS Vivobook Pro 14 OLED (M3400)

Semoga segala perjuangan kita berbuah hasil. Maju terus Blogger Indonesia! Maju terus Peneliti Muda Bioinformatika Indonesia!

Sumber Penulisan:

Press Release ASUS Vivobook Pro 14 OLED (M3400), Laptop OLED Powerful dan Terjangkau

https://www.asus.com/id/Laptops/For-Home/Vivobook/Vivobook-Pro-14-OLED-M3400/

https://radarsemarang.jawapos.com/artikel/opini/2020/07/10/peran-bioinformatika-dalam-deteksi-virus-covid-19-berbasis-pcr/

https://nasional.sindonews.com/read/493404/15/pentingnya-bioinformatika-untuk-masa-depan-1627312066

https://radioedukasi.kemdikbud.go.id/read/1784/bioinformatika-ilmu-baru-yang-perlu-dipelajari-dan-dikembangkan.html

Leave a Comment

Your email address will not be published.